04/12/2009

Have You Ever Realized?

Untuk anda, pangeranku.

Ketika anda tak sengaja membaca sebuah postingan kecil ini, runtutan kata-kata yang tak anda mengerti, susunan huruf-huruf yang asing bagi anda, ketahuilah bahwa saya menulisnya hanya untuk anda, D, yang kini bersembunyi dibalik tembok-tembok masa depan anda.

Jangan. Jangan ingatkan saya pada runtutan kejadian di kelas tujuh itu. Awal yang bodoh. Saya, dan tentu saja, anda. Jika saya dapat kembali ke masa lalu, saya akan hapus semua ingatan tentang anda. Semua. Semua yang menyakitkan. Semua yang begitu menyenangkan. Topeng! Kenangan yang menyenangkan itu hanya topeng, bukan? Kenangan yang sengaja anda buat sehingga saya merasakan rasa yang sebaliknya sekarang ini.

Saya tahu sayalah yang salah. Salah karena menyayangi anda. Anda pernah meminta maaf. Terimakasih. Tapi tak ada alasan untuk anda meminta maaf, sebenarnya.

Maaf karena aku sering nyakitin kamu. Maaf karena aku, kamu jadi sering nangis. Maaf.

Maaf. D, tak ada yang harus dimaafkan. Saya sudah terlalu mendalami rasa ini, sehingga apa pun yang anda telah lakukan, sejujurnya, saya sudah memaafkan anda. Memaafkan anda, D, ketika anda berbohong. Memaakan anda ketika anda membuat saya menangis. Memaafkan anda ketika anda membuat segurat baret lain di hati saya. Well, sudah saya katakan, anda tak perlu meminta maaf karena semuanya salah saya.

Toh, jika saja saya berusaha melupakan anda, tak mungkin anda menyakiti hati saya, kan? Toh, jika saya tidak berkeras kepala untuk tetap menyayangi anda, anda tak mungkin membuat saya menangis, ‘kan?

Anda tahu, D? Yang tak bisa saya maafkan adalah saya sendiri. Saya tak bisa tersenyum ketika anda menyayangi orang lain. Saya tak bisa menerima jika seandainya tak pernah ada saya di hati anda. Padahal saya pernah berjanji pada anda, dan diri anda sendiri, apapun keputusan anda akhirnya, saya akan terima dan lalu tersenyum bahagia. Tapi apa? Saya lari dari kenyataan. Saya mengarang sebuah dongeng sendiri hanya untuk membuat diri saya tersenyum ketika satu demi satu segaris luka bertambah di sini.

Saya yakin kening anda berkerut ketika membaca sebuah postingan bodoh ini, heran. Mungkin anda tak mengerti hal bodoh apa lagi yang saya tulis di postingan ini. Ah, anda tak mungkin mengerti, D. Anda tak merasakan hal menyakitkan ini.

Ketika anda tak sengaja membuka halaman facebook saya dan melihat beberapa link berjejer disana lalu anda klik blog ini, atau ketika seorang dari sahabatmu tak sengaja membuka halaman ini dan memberitahukannya pada anda, ketika anda dengan santainya meluangkan beberapa menit membaca sebuah catatan kecil konyol ini, maka saya sedang melukiskan sebuah senyum palsu di wajah saya, mengisyaratkan bahwa saya baik-baik saja dan itu adalah sebuah kebohongan kecil yang lebih baik. Maka jika anda telah membaca ini dan mungkin tak mengerti apa yang sedang saya bicarakan, anggap saja anda tak pernah membaca susunan kata-kata yang saya buat untuk anda sebelumnya. Sehingga saya tetap bisa melihat wajah anda yang mengumbar senyum, walaupun saya tahu, senyum itu bukan untuk saya.

Love,

Encha

(Sebuah nama yang pernah anda berikan. Masih ingat?)

No comments: